This blog is about my thoughts that I can't speak out but I want others' to know and some inspirational stories.
2019/12/01
Mengerti dan Dimengerti
Ada sebagian orang tua yang dapat mengerti apa yang diinginkan anaknya, apa yang anaknya rasakan. Bahkan menjadi orang tua yang benar-benar dapat berperan sebagai "sabahat" bagi sang anak. Tetapi masih banyak juga orang tua yang menjadi orang tua dengan tipe otoriter, orang tua terlalu berekspektasi dan menuntut anaknya secara tidak sadar. Masih banyak orang tua yang merasa anaknya tidak mengerti dirinya. Mereka tidak tahu atau mungkin tidak sadar bahwa anaknya sedang berusaha untuk mengerti apa yang orang tuanya lakukan dan harapkan. Masih banyak orang tua yang merasa kecewa dengan sikap anak terhadapnya, tanpa mereka ketahui bahwa sesungguhnya anaknya pun merasa kecewa dengan sikap orang tuanya terhadap si anak.
Bagi para orang tua di luar sana, jika kalian ingin dimengerti oleh anak kalian, cobalah kalian untuk mengerti dahulu apa yang anak kalian inginkan secara emosional. Karena sesungguhnya anak lebih membutuhkan dukungan secara moril, secara emosional, bukan hanya pada saat masa kanak-kanak mereka, tetapi juga pada masa remaja mereka. Dukungan moril bagi para remaja sangat dibutuhkan untuk persiapan mental mereka menjelang mereka ke perguruan yang lebih tinggi.
Bagi para orang tua di luar sana, jika kalian ingin anak kalian melakukan yang kalian inginkan, lakukanlah hal itu terlebih dahulu kepada anak kalian. Karena walaupun umur sudah bertambah dan anak kalian bukanlah seorang anak-anak lagi, tapi dia tetaplah seorang anak yang mempunyai naluri untuk mencontoh orang tuanya. Children see and children do. Biarkanlah anak kalian melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya, dan anak pun bisa melakukan hal itu kepada kalian, orang tuanya.
Bagi para orang tua di luar sana, cobalah untuk mendengarkan anak kalian. Cobalah untuk merendahkan ego dan gengsi kalian sebagai orang tua untuk mendengarkan apa yang sesungguhkan dirasakan oleh anak kalian. Cobalah untuk perlahan-lahan mengerti apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh anak kalian. Janganlah menanamkan pada diri kalian sendiri bahwa kalian adalah orang tua dan kalian sangat mengerti anak kalian, karena sesungguhnya kalian belum tentu benar mengerti apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh anak kalian.
Bagi para orang tua di luar sana, jika kalian ingin dimengerti oleh anak kalian, cobalah kalian untuk mengerti anak kalian terlebih dahulu. Kenalilah anak kalian, terutama anak dalam usia remaja, dimana mereka sedang mencari jati diri mereka dan mereka amat sangat membutuhkan dukungan moral dari kalian. Janganlah memberi komentar negatif akan apa yang sudah mereka capai. Hargailah proses yang sudah mereka lakukan.
Jika kalian sudah benar mengerti anak kalian, maka anak kalian pasti dapat mengerti kalian juga.
MENGERTILAH TERLEBIH DAHULU JIKA INGIN DIMENGERTI.
2019/06/04
Not A Father's Princess
Aku banyak mendengar orang bilang kalimat ini. Dan aku juga banyak melihat nyata adanya, bahwa seorang anak perempuan adalah anak kesayangan seorang ayah. Ada seorang teman yang sangat dekat dengan ayahnya. Setiap pagi sebelum masuk sekolah, ia akan mencium dan memeluk ayahnya. Seolah ia tidak rela untuk berpisah dengan ayahnya. Ada juga seorang anak yang ayahnya dengan sabar menunggunya pulang sekolah dan mengajaknya pergi untuk bersenang-senang sejenak sebelum pulang ke rumah. Ada juga ayah yang memberi ijin ke anaknya untuk melakukan apa yang disukainya. Kebanyakan ayah akan memberi dukungan kepada anaknya untuk anaknya menentukan apa yang ia ingin lakukan atau apa yang sudah menjadi cita-citanya tanpa memberi tekanan berupa ekspektasi yang terlalu tinggi.
Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku untukku. Ayahku bilang bahwa dia berusaha untuk memperlakukan aku dan adikku dengan adil. Tapi nyatanya aku merasa diperlakukan tidak adil. Kesalahan yang adikku lakukan akan berakibat aku yang dimarahi. Prestasi yang sudah kuraih hanya akan selalu dianggap kurang. Tidak ada pujian untukku. Hanya kritikan yang kuterima. Bahkan disaat aku mendapatkan piala untuk juara 2, Ia malah menunjukkan kekecewaan kenapa hanya mendapat juara 2, kenapa tidak mendapat juara 1? Apa yang kulakukan selalu kurang untuknya.
Ada suatu saat aku sedikit berharap bahwa aku akan mendapat hadiah kecil atas prestasi kelas yang sudah aku dapatkan. Bahkan walaupun hanya berupa penambahan uang jajan walupun sedikit aku akan merasa senang. Tapi nyatanya Ia malah berkata bahwa Ia memberikan uang jajan yang sama kepadaku dan adikku. Dengan alasan Ia selalu bersikap adil kepada kami berdua. Tapi buatku, itu tidak adil. Aku bekerja keras dan bahkan kerja kerasku tidak dihargai sedikitpun. Aku berusaha membuatnya bangga tapi bahkan dia tidak merasakannya. Malam itu aku hanya bisa menangis sendirian. Menelan segala kekecewaanku padanya.
Banyak kali terjadi saat aku bertanya suatu hal padanya. Aku bertanya dengan suara yang biasa tanpa ada maksud menuduh ataupun menghina atau apapun itu. Tapi dia malah membalasku dengan nada marah. Seolah-olah aku sudah melanggar sesuatu yang seharusnya tidak boleh kulakukan. Tetapi apabila aku menaikan nadaku, dia akan semakin marah dan bilang bahwa apabila aku marah, dia akan lebih marah. Jadi aku harus bagaimana menghadapinya? Apakah berarti bahwa aku tidak boleh marah? Apakah aku harus selalu merasa bahagia saat dirumah walaupun dia lagi marah? Atau haruskah aku mematikan saja segala rasa yang ada?
Disaat aku melihat orang-orang bisa pergi berdua bersama ayahnya, seolah-olah sedang pergi bersama pacar, rasa iri selalu menghampiri hati ini. Aku juga ingin merasakan hal yang sama. Tapi rasanya itu akan sangat sulit. Boro-boro pergi berdua, pergi berempat dengan mama dan adik saja banyakan ocehan yang kudengar. Entah kapan aku bisa merasakan kasih sayang ini...
Hal yang tidak bisa dihindari, apapun yang terjadi, dia tetaplah ayahku. Selama aku masih dihidupi olehnya, aku tak berdaya dalam mengemukan apa yang kupikirkan. Aku tidak dapat bebas pergi kemanapun yang aku ingingkan. Aku harus menahan diri atas apa yang aku rasakan dan menerima semua hal negatif yang secara tidak langsung diberikan kepadaku. Hanya satu doaku untuknya; semoga dia selalu berbahagia dengan apa yang dilakukannya. --
2019/05/14
Teruntuk Para Orang Tua
Teruntuk Papa dan Mamaku,
Janganlah kalian menaruh harapan tinggi kepadaku, apabila nantinya aku tidak dapat mewujudkannya, kalian akan kecewa.
Janganlah paksakan kehendak kalian kepadaku, aku punya keinginkanku sendiri.
Janganlah kau marahi aku bila aku tidak dapat nilai bagus. Hiburlah aku agar aku tetap dapat menghadapinya.
Terkadang aku tidak butuh saranmu, aku hanya butuh untuk didengarkan.
Jangan mengulang nasihat yang sudah kau berikan terus menerus setiap harinya. Kau boleh mengulangnya dalam jangka waktu yang cukup panjang sebagai pengingat untukku.
Jangan marahin aku hanya karna aku tidak memberi kabar. Tanyalah aku dengan baik-baik.
Jangan kau membalas perbuatan burukku dengan perlakuan yang sama. Perlakukanlah aku dengan cara kalian ingin diperlakukan.
Janganlah kalian merasa bahwa kalian sangat mengenal kita karena nyatanya kalian belum tentu mengenal kita. Kalian bisa saja tidak tahu apa yang aku suka atau tidak suka. Kalian hanya tau pada saat kita di rumah.
Maaf jika aku banyak menuntut kepada. Aku tau tidak seharusnya aku menuntut banyak darimu. Tapi apa yang kuinginkan adalah agar aku dapat mendapatkan kasih sayang yang ku inginkan dari kalian. Apabila aku jauh, tanyakanlah kabarku, ceritakanlah kabarmu, maka aku akan membuat percakapan kita menjadi lebih nyaman.
Maaf jika kalian menganggap aku sebagai anak yang tidak tau berterima kasih karena kalian sudah membesarkan aku tanpa pamrih. Tapi aku hanya ingin kalian lebih mengenalku lebih dalam.
Maaf jika aku sering diam-diam marah kepada kalian. Itu kulakukan karena aku merasa kalian mengekang dan membatasiku dalam mengekspresikan keinginanku.
Maaf aku masih tidak bisa menjadi anak seperti yang kalian inginkan.
Maaf aku masih memiliki egoku sendiri untuk menjelajahi dunia yang besar ini.
Maaf kalau aku masih tidak bisa memenuhi keinginan kalian.
Ketahuilah, aku sangat menyayangi kalian dan tidak ingin kalian tersakiti. Tapi aku mohon, mengertilah aku seperti kalian ingin dimengerti.
Dari anakmu yang memendam perasaan tersakiti dari kalian tapi tidak punya kesempatan untuk menyampaikannya kepada kalian.
2014/03/10
Check Up Rohani
Suatu ketika aku pergi ke Klinik Rohani untuk melakukan check up. Begitu datang aku diukur tensi, ternyata aku memiliki kerendahan hati yang kurang cukup. Ketika diukur temperatur, termometer menunjukkan derajat kegelisahan yang terlampau tinggi. Pada pemeriksaan jantung, ternyata arteri jantung tersumbat oleh berbagai kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan serta dendam, sehingga dibutuhkan tindakan. Ketika aku ke bagian ortopedi, bagian tulang, ternyata tulang-tulangku mulai keropos oleh cemburu dan iri hati. Dan ketika memeriksa mata yang mulai mengganggu, ternyata penyebabnya adalah terlalu seringnya aku melihat kekurangan-kekurangan orang lain dan kekurangan-kekuranganku sendiri, sehingga kemampuan mata untuk melihat hal-hal yang indah dan baik mulai berkurang. Ketika mengeluh akan kemampuan pendengaranku, terapis menyarankan agar aku mulai berlatih mendengar suara hati dan sesama disetiap harinya.
Setelah menjalani semua check up, aku diberi obat gratis yaitu, ANUGRAH yang dapat menyembuhkan semua penyakit itu. Inilah obat-obat yang diberikan kepadaku : kapsul rasa syukur atas segala yang aku miliki,di minum setiap hari. Segelas pikiran positif, secangkir pengampunan, dan semangkuk kesabaran yang diminum setiap hari.Sebungkus kasih dan kerendahan hati, diminum setiap jam. Dan setelah pulang ke rumah, di saat sore hari, minum satu tablet cinta kasih. Setiap malam sebelum tidur, aku di anjurkan untuk mendengar suara hati kembali dan minum pil anti sedih dan putus asa guna menangkal akibat buruk dari peristiwa-peristiwa yang dialami hari itu. Selanjutnya, aku tidur dengan berselimutkan doa dan berbantalkan iman dan pengharapan.
Yak, itulah obat-obat yang diberikan yang disebut dengan anugrah. Semoga bermanfaat bagi saya, anda dan orang-orang yang suka sakit. Lakukan check up rohani secara rutin. Selamat menjalaninya, Ingat dan Sadarilah, bahwa hidup adalah pilihan. Pilihlah dengan bijaksana. LET'S BE AMAZING!
sumber: Victor Osman
2013/11/18
Speech on Friend
A friend is a gift you give to yourself. Friends are those people in your life with whom you do not have any blood relation. It’s a relation of love and affection towards other people.
Your friend is someone with whom you feel comfortable and can easily share your thoughts and feelings. You do not have to think twice when you are with your friends. A true friend loves you unconditionally, understands you, but never judges you and always tries to support you and give you good advice. The friendship of Krishna and Sudama is a great example of true friendship.
“A friend is someone who knows all about you and still loves you.” ― Elbert Hubbard
A true friend is one will always be there when you need someone. He will leave all his important works but will never leave you alone, especially in your difficult times. That is why it is said a friend in need is a friend indeed. Difficult times are the best time to realize who your true friends are. Blessed are the souls who have true friends. It does not matter how many friends you have, what matters is how many true friends you have.
Friends show us how to live a life in a different way; they are the ones who can change our viewpoints for good. There is no growth of the person without any friend. A friend is really very essential to understand life. Until now we have been looking at life the way our family wanted us to see, it is only when we see the world with the eyes of a friend that our view point changes.
The kind of friends you have determines the kind of person you are. That is why it is advised to be careful before making a friend. Choose someone with good thoughts and character, because our thoughts and feelings are affected by the place we live in and with the people we live with. Be friends with someone who makes you feel free, positive and alive.
A couple should be best of friends for a successful marriage. Husband and wife should understand each other the way true friends understand each other. They should have love and understanding, trust and respect for each other.
Thus, before getting married one should give importance to the degree of friendship a couple holds. As said by Nicolas Sparks in the novel “The Notebook”- “You are my best friend as well as my lover, and I do not know which side of you I enjoy the most. I treasure each side, just as I have treasured our life together.”
Many songs and stories have been written on the importance of friendship. It breaks the ice between two unknown people, if the other person is friendlier then a person feels more comfortable and easily opens up. Even a small drop of friendship can do wonders in any such relationship as the relationship of a couple, parents and their child, boss and employee, members of an organization etc. Heaven will fall on earth if we can eradicate ego, selfishness and hate and grow love and friendship for each other in the hearts of people.
2013/11/06
Kemungkinan Komputer di Masa Depan
Dengan teknologi komputer yang ada saat ini, agak sulit untuk dapat membayangkan bagaimana komputer masa depan. Dengan teknologi yang ada saat ini saja kita seakan sudah dapat “menggenggam dunia”. Dari sisi teknologi beberapa ilmuan komputer meyakini suatu saat tercipta apa yang disebut dengan biochip yang dibuat dari bahan protein sitetis. Robot yang dibuat dengan bahan ini kelak akan menjadi manusia tiruan. Sedangkan teknologi yang sedang dalam tahap penelitian sekarang ini yaitu mikrooptik serta input-output audio yang mungkin digunakan oleh komputer yang akan datang. Ahli-ahli sains komputer sekarang juga sedang mencoba merancang komputer yang tidak memerlukan penulisan dan pembuatan program oleh pengguna. Komputer tanpa program (programless computer) ini mungkin membentuk ciri utama generasi komputer yang akan datang.

Secara prinsip ciri-ciri komputer masa mendatang adalah lebih canggih dan lebih murah dan memiliki kemampuan diantaranya melihat, mendengar, berbicara, dan berpikir serta mampu membuat kesimpulan seperti manusia. Ini berarti komputer memiliki kecerdasan buatan yang mendekati kemampuan dan prilaku manusia. Kelebihan lainnya lagi, kecerdasan untuk memprediksi sebuah kejadian yang akan terjadi, bisa berkomunikasi langsung dengan manusia, dan bentuknya semakin kecil. Yang jelas komputer masa depan akan lebih menakjubkan.
2013/10/15
Kunjungan ke Kampung Sindangbarang, Bogor
Tidak hanya naik bus, sesampainya di kota Bogor, kami menaiki salah satu dari 25 angkot yang sudah disediakan oleh sekolah.
[Di angkot]
Lalu kami melaksanakan kegiatan kegiatan seperti membatik, tari jaipong, pencak silat, menumbuk dan menanam padi, permainan tradisional szeperti bakiak dan engrang.
Pertama - tama kami diajak untuk membatik yang ternyata sangat susah.
Setelah itu kami memainkan permainan tradisional sementara SMA melakukan tracking ke peninggalan Kerajaan Pajajaran. Permainan tradisional juga diikuti oleh para guru, inilah beberapa contoh permainan yang diikuti guru yang dilakukan oleh Ms.Trismi , Sir.Fardi dan Ms.Nitya
Para murid, tentu saja ikut memainkan permainan tradisional yang menyenangkan ini. Guru-guru pun ikut berpartisipasi dengan mengikuti permainan-permainan ini.
Setelah itu kami menyantap makan siang tradisional ala Bogor yang ternyata sangat lezat.Lalu kami main kartu sampai kami diajak untuk menangkap ikan. Dan karena lumpur yang banyak kami harus mengganti baju. Hasil tangkapan dibawa pulang. Kami juga diajak untuk menanam padi.
Pada akhir acara kami berkumpul dan menyaksikan tari Jaipong setelah itu kami kembali ke angkot dan menuju Botani Square menggunakan bis. Padahal saya senang karena dapat menghirup udara segar jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta dan menikmati pemandangan.
Di Botani Square, teman-teman saya menikmati waktu mereka berjalan-jalan, sedangkan saya hanya berdiam diri di bus karna merasa kurang enak badan. Setelah itu kami pulang ke Jakarta sambil menikmati makan malam KFC. Kami sampai di sekolah sekitar pukul 20.00 , itulah pertama kalinya saya di Kampung Budaya Sindangbarang. Mungkin di lain waktu saya akan berkunjung lagi karena udara pedesaan yang menyengarkan paru-paru yang sudah terlalu banyak menghirup polusi..
Nyawa Anakku Diselamatkan Oleh Seekor Anjing
Anjing ini akhirnya tinggal bersama keluarga ini dan diberi nama TaterTot. TaterTot pada awalnya akan diberikan kepada orang lain, namun semua itu berubah setelah sebuah kejadian.
Peyton adalah anak laki-laki di keluarga ini. Seperti anak laki-laki pada umumnya, Peyton termasuk sebagai salah satu anak yang aktif. Dia suka bermain dengan TaterTot di dalam kamarnya. Nampaknya Peyton mulai menyukai TaterTot dan begitu pula sebaliknya.
Dia mengikuti TaterTot ke kamar Peyton dan mendapati anaknya sedang terkulai lemah di tempat tidur. Christi dengan sigap langsung membawa Peyton ke rumah sakit terdekat. Di sana dokter mengatakan bahwa Peyton kesulitan bernapas karena gula darah di dalam tubuhnya sangat rendah. Jika tidak cepat di bawa ke rumah sakit, hal ini bisa menyebabkan kematian seperti yang dilansir oleh Merdeka.com (11/10).
Christi sangat bersyukur dengan kehadiran TaterTot. Dia sangat berterima kasih kepada anjing pitbull hitam ini karena telah menyelamatkan anaknya. Nampaknya TaterTot merasa berhutang budi karena telah diselamatkan oleh keluarga ini saat hampir dibunuh di penangkaran hewan.
Saat ini Christi merasa berhutang nyawa pada TaterTot karena telah menyelamatkan anaknya. Kisah ini bisa menjadi sebuah renungan bahwa apapun hal baik yang Anda tanam dengan ikhlas dan tanpa mengharap pamrih, maka akan dibalas dengan perbuatan baik lainnya. Begitu pula sebaliknya. Jadi jangan lupa untuk selalu berbuat baik ya.
2013/10/12
Kisah Pemuja Rahasia: Namanya Senja, Dia Kisahku
Orang bilang, cinta itu bisa datang kapan dan di mana saja. Tidak pernah terduga dan bahkan tidak bisa dihindari. Agaknya ungkapan ini benar adanya. Anda pasti pernah mengalami momen di mana menyukai seseorang tiba-tiba, tanpa alasan. Hati Anda yang berbicara, iya, hati kecil Anda.
Semua wanita pernah memendam rasa, rasa cinta yang mungkin tidak akan pernah terungkap. Sayang, apakah ada kata terlambat untuk cinta? Apa selalu ada kata tunggu untuk cinta?
"Eh, ada acara kantor lho, minggu depan. Kamu ikut kan? " kata Gana membuyarkan lamunan ku. Dia berkata sambil melirikku penuh maksud. Aku tahu, ini pasti adalah kode bahwa dia juga akan ada di acara itu. Ini mungkin jadi kesempatan pertama buatku untuk mengajaknya datang bersama. Tapi, mungkinkah? Duh, bagaimana ya alasan yang tepat? Aku harus bilang apa ya? Sayang, semua itu hanya ada di angan. Aku tidak pernah berani untuk menanyakannya. Semua berakhir. Kesempatanku hilang. Bodoh...
Acara kantor terlewat begitu saja, seperti anganku berkenalan lebih dekat dengannya juga. Sayang, aku hanya bisa melihat punggungnya saja. Aku dan dia memang berada di kantor yang sama, sayang kami dipisahkan oleh divisi yang berbeda.
"Ah, nggak, lagi males pulang aja. Asyik di sini." Entah apa yang meracau dari mulutku. Hati, otak dan mulutku sedang tidak bisa bersinergi dengan baik. Tapi, dari situlah aku sedikit mengenalnya. Dia menemaniku hingga beberapa jam setelahnya. Dari situ juga aku mendapatkan kontaknya. Malam itu aku tidur dengan tersenyum, antara tidak percaya dan lucu saja bagaimana Tuhan mengatur perkenalan kami.
To : Gana
"Akhirnya aku kenalan juga dengan dia." Sent
Tapi, bagiku, melihatnya datang setiap pagi sudah bisa membuat hariku bahagia. Melihatnya membalas senyumku itu sudah cukup membuat tidurku nyenyak. Mungkinkah aku hanya akan menjadi secret admirer? Atau harus kukatakan bagaimana perasaanku sebenarnya? Tapi, bagaimana jika semua kedekatan yang sudah pernah terjalin hilang begitu saja?
"Cie.. Siapa nih gebetannya? Makin kenceng aja gosipnya." Tanyaku suatu malam ketika lagi-lagi aku harus lembur di kantor. Dia yang kutanya hanya diam saja. Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada jawaban.
"Perhatian semuanya. Setelah ini akan ada pemutaran video. Minta perhatiannya ya?"
Aku yang semula tidak terlalu memperhatikan karena sedang sibuk ngobrol, tiba-tiba merasa aneh karena semua orang menoleh ke arahku. Ketika aku mengubah pandanganku, astaga...
(vem/dyn)
2013/10/09
Kisah Pengabdian Seorang Menteri
Alkisah ada seorang raja yang memiliki 10 anjing ganas untuk menghukum
menterinya yang salah. Jika sang Raja tidak berkenan maka menteri yang
salah akan dilempar ke kandang agar dicabik oleh anjing-anjing ganas
tersebut.
Suatu hari seorang menteri membuat keputusan salah
dan murkalah Sang Raja. Maka diperintahkan agar sang menteri dimasukkan
ke kandang anjing ganas.
Menteri berkata: "Paduka, saya telah mengabdi padamu selama 10 tahun,
tapi paduka tega menghukumku begini. Atas pengabdianku selama ini saya
hanya minta waktu penundaan hukuman 10 hari saja". Sang Raja pun
mengabulkannya.
Sang menteri bergegas menuju kandang
anjing-anjing tsb dan meminta izin kepada penjaga untuk mengurus
anjing-anjingnya. Ketika ditanya untuk apa? Maka dijawab: "Setelah 10
hari nanti engkau akan tahu''. Karena tahu itu menteri maka diizinkan.
Selama 10 hari itu sang menteri memelihara, mendekati, memberi makan
bahkan akhirnya bisa memandikan anjing-anjing tsb hingga menjadi sangat
jinak padanya.
Tibalah waktu eksekusi, disaksikan Raja
dimasukkanlah sang menteri ke kandang anjing, tetapi Raja kaget saat
melihat anjing-anjing itu justru jinak padanya. Maka dia bertanya apa yg
telah dilakukan menteri pada anjing-anjing tsb?
Jawab menteri:
"Saya telah mengabdi pada anjing-anjing ini selama 10 hari dan mereka
tdk melupakan jasaku. Tapi paduka… Saya telah mengabdi padamu selama 10
tahun, tapi paduka tega menjatuhkan hukuman ini pada saya".
Terharulah raja, meleleh airmatanya lalu dibebaskanlah sang menteri dari hukuman & dimaafkan.
Saudara/i terkasih, Cerita ini sungguh hadiah dari hati yang terdalam
bagi semua insan; agar tidak mudah mengingkari & melupakan berbagai
kebaikan yang kita terima dari orang-orang terdekat kita, hanya karena
kejadian sesaat yang tidak mengenakkan & jangan mudah menghapus
kenangan dan persahabatan yang telah terukir bertahun lamanya hanya
karen hal-hal kecil yang kurang kita sukai padanya saat ini. Apalagi
jika penilaian kita padanya lebih didominasi subyektifitas kita. Jangan
sampai kita kalah dengan hewan tersebut dalam menghargai sebuah kebaikan
& bakti.
Pengorbanan Ayah
Di sekolah seperti biasanya. Saat istirahat aku hanya duduk diam di kelas. Aku sama sekali tidak dikasih uang jajan. Penghasilan ayah yang pas-pasan setiap harinya, hanya bisa untuk beli makan untuk di rumah saja. Bekal pun tidak ada. Aku rasa Tuhan tidak adil! Aku benar-benar muak dengan hidupku sekarang! Ingin sekali rasanya aku kabur dari rumah dan mencari keluarga baru yang kaya raya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Ongkos untuk kabur pun aku tidak punya.
Saat pulang sekolah, ayah sudah pulang duluan. Kulihat ayah memandangi foto ibu yang telah usang. “Dia itu udah mati! Percuma kalo foto diliatin gitu juga nggak bakal ngebuat dia hidup lagi!” teriakku kemudian langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kesal. Terdengar suara tangisan ayah. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku kemudian tidur sambil menutup kepalaku dengan bantal gepeng yang usang.
“Dasar anak tukang sayur! Udah miskin sok ngatur-ngatur lagi lo! Pergi lo dari kelompok gue!” teriak Metha, salah satu temanku, dia memang anak orang kaya. Kemudian aku pergi dari mejanya. Percuma juga jika aku meladeni bentakannya itu, yang ada teman-teman pasti akan menertawaiku karena ucapan Metha yang menjelek-jelekkanku. Aku pun tidak akan menangis dengan ucapan Metha tadi. Ucapan-ucapan seperti tadi sudah menjadi makanan sehari-hariku. Yah, beginilah kehidupanku. Penuh dengan ejekan. Semua ini karena keluargaku yang miskin! Aku benar-benar stres karena kemiskinan!
“Heh! Ganti pekerjaan kek, Bapak! Aku malu denger semua ocehan temen-temen! Mereka selalu bilang kalo aku anak tukang sayur! Aku malu, Pak! Malu!” teriakku pada ayah sepulang sekolah.
“May, udah sepuluh tahun Bapak kerja seperti ini. ini memang sudah pekerjaan Bapak, May. Mana mungkin bapak menggeluti pekerjaan lain. Bapak juga tidak punya keahlian, May. Maafkan Bapak” sahut ayah sambil menangis. Aku benci ucapan ayah itu! Bukan itu yang aku mau!
“Bodo amat! Pokoknya Bapak nggak boleh jadi tukang sayur lagi!” bentakku kemudian masuk ke kamar dan membanting pintu. Di kamar aku menangis. Meratapi nasibku ini. Kenapa buruk nasibku ini? Aku benci! Aku benci semuanya!
Paginya kulihat ayah duduk di depan. Dia tidak pergi ke pasar hari ini. “Pak? Nggak jualan?” tanyaku. Ayah kemudian tersenyum padaku. “Bapak udah nggak jualan sayur, May. Kamaren kan kamu yang bilang supaya Bapak nggak jualan sayur. Sekarang Bapak jualan koran. Dan sebentar lagi juga Bapak berangkat” ucap ayah kemudian. “Ish, dasar! Maksud gue nggak usah jualan sayur, ya jangan jualan koran! Jadi insinyur kek! Biar kita kaya! Kaya raya, Pak!” bentakku kemudian. Ayah menundukkan kepalanya. Sebal melihat ayah, aku langsung pergi untuk berangkat sekolah. Kemudian ayah memegang pundakku dan menyodorkan tangannya. Aku sudah kesal dengan ayah bego itu! Aku tetap pergi tanpa salim padanya. Aku benci dia!
Tiga bulan kemudian, ayah berganti pekerjaan sebagai tukang koran. Sama saja! Hidupku tidak berubah sama sekali. Sama seperti dulu. Tidak dapat uang jajan, jarang makan dan tidak ada uang untuk kabur dari rumah! aku benar-benar stres ada di rumah! Mau pergi juga pergi kemana? Aku sama sekali tidak ada uang. Bosan sekali aku di rumah ini!
Ayah pulang kemudian duduk di kursi sambil mengelap mukanya yang bercucuran peluh. “May, tolong ambilin Bapak minum. Bapak capek sekali, May” ucap ayah kemudian. “Heh! Enak aja nyuruh-nyuruh lo! Kalo haus, ya ambil minum sendiri! Punya kaki kan? Kalo Bapak nggak punya kaki, baru aku ambilin!” teriakku kemudian pergi meninggalkan ayah sendiri. Kemudian aku pergi keluar rumah. Aku duduk duduk di kursi depan. Sebal rasanya aku dengan ayah. Sudah miskin, sok jadi raja lagi! Minum saja minta ambilin! Punya kaki kenapa harus minta ambilin?! Dasar ayah tidak berguna! Ucapku dalam hati dengan kesalnya.
Besoknya tiba-tiba ayah pulang dengan babak belur. Ayah meringis kesakitan sambil memegang lukanya. Kemudian aku menghampirinya dan bertanya, “Kenapa, Pak?”. “Bapak tadi berantem, May. Ada orang yang mengambil barang berharga punya Bapak” jawab ayah sambil meringis kesakitan. “Ish! Ngapain coba pake berantem segala?! Kayak anak kecil aja! rebutan barang lagi! Anak kecil banget tau nggak!” bentakku benar-benar sebal. Dasar orang tua! Sudah tua bukannya banyak nyari uang, malah berantem kayak anak kecil! Bentakku dalam hati. Ih! Aku benar-benar kesal dengan ayah! Sudah tua, miskin, kerjanya hanya merepotkan saja! Rasanya aku ingin cepat kabur dari rumah ini! Rumah gubug ini!
Malam harinya, terbelesit pikiran nakalku. Aku tau bagaimana cara kabur dari rumah kali ini. aku berjinjit masuk pelan ke kamar ayah. Kulihat ayah sedang duduk di kursi depan. Saat di kamar ayah, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju ayah. Kucari-cari sesuatu itu. Dan akhirnya... ya! Aku berhasil mendapatkannya! Uang itu, uang untuk kabur itu. Aku berhasil mendapatkannya. Selamat tinggal miskin! Ucapku dalam hati sambil tertawa tidak bersuara. Kemudian kumasukan uang itu ke dalam saku baju. Aku bergegas keluar dari kamar ayah. Saat hendak keluar, tiba-tiba ayah sudah ada di depanku. Aku terkejut melihatnya.
“Kamu kenapa ke kamar Bapak?” tanya ayah padaku. Aku memikir-mikir alasan apa yang masuk akal.
“Emangnya nggak boleh apa ke kamar Bapak?! Miskin aja pake rahasia-rahasian segala! Dasar miskin!” bentakku kemudian. Aku segera masuk ke dalam kamar.
Ku hitung-hitung, uangnya berjumlah empat puluh lima ribu. Untuk apa ayah menyimpan uang sebanyak ini? Dasar!. Aku berencana, nanti pagi-pagi sekali pergi dari rumah ini. Niatku sudah mantab! Aku akan pergi dari kemiskinan ini! pergi dari ayah yang tidak berguna itu! Ucapku dalam hati dengan mantabnya.
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Saat hendak keluar kamar, tiba-tiba ada perasaan tidak enak. Aku tidak tau kenapa begitu. Hatiku ini, seperti bilang jangan pergi. Aku takut jika nanti terjadi apa-apa dengan diriku. Setelah lama dilema, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah. uang ini, lebih baik aku simpan sendiri saja. Cukup untukku membeli baju. Apalagi.. sebenatar lagi hari ulangtahunku. Aku juga ingin bersenang-senang di hari ulangtahunku. Akhirnya aku menyimpan kembali uang itu. Dan tidak jadi pergi dari rumah. sangat kusesali juga. Tapi.. yasudahlah, mungkin memang ini belum waktunya untuk kabur dari rumah.
Seminggu kemudian, tepat di hari ulangtahunku, aku berdandan serapih mungkin. Hari ini aku akan pergi ke pasar untuk membeli baju dengan memakai uang yang ku simpan itu. Saat di perjalanan, tiba-tiba salah seorang tetanggaku menghampiriku dan berkata, “May, May tunggu! Jangan pergi dulu! Emm.. heh.. emm.. anu... Bapakmu.. heh.. Bapakmu.. kec.. kecelakaan!”. Aku terkejut dengan ucapan itu. Entah kenapa aku sedih dengan ucapan tetanggaku itu. Seharusnya aku senang karena ayah kecelakaan! Jadi tidak ada yang merepotkanku lagi. Tidak ada wajah yang menjengkelkan aku lagi. Tapi kali ini.. aku malah sedih. Saat diajak menengok ayah pun aku mengikuti. Kenapa ini? tanyaku pada diri sendiri.
Air mataku menetes saat melihat ayah terbaring di kasur rumah sakit. Lukanya ada dimana-mana. Diselimutnya, masih terbekas darah segar bekas darah ayah. Aku langsung menghampiri ayah. Air mataku terus mengalir sedih. Entah mengapa, aku kasian melihat ayah terbaring seperti ini. Memeluknya.. aku malu sekali melakukan itu. Padahal aku sangat ingin melakukan itu.
Sejam kemudian, ayah sadar. Kemudian dipanggil-panggilnya namaku. Aku pun segera menghampiri ayah. “May, coba tolong liatin kaki Bapak. Bapak merasa tidak nyaman, May. Bapak bener-bener minta tolong kali ini” pinta ayah kepadaku. Kemudian, kubuka selimut ayah dan betapa terkejutnya aku. Kaki ayah.. kaki ayah.. kaki ayah hanya tinggal sedengkul. Kaki ayah ternyata diamputasi. Ayah tidak punya kaki lagi sekarang. Air mataku kembali mengalir saat melihat keadaan kaki ayah sekarang. Tanpa malu, aku langsung memeluk ayah. Sakit hati ini memeluknya. Mengingat perlakuanku kepadanya dulu.
“May, Bapak haus. Tolong ambilkan minum untuk Bapakmu ini, Nak. Kamu sendiri yang bilang kan, jika Bapak tidak punya kaki, kamu yang akan mengambilkan minum untuk Bapak. Sekarang.. Bapak tidak punya kaki lagi, May. Tolong ambilkan minum untuk Bapak, Nak” ucap ayah menangis. Melihat ayah menangis, aku pun jadi ikut menangis. Kemudian kuambilkan minum ke meja. Hatiku kembali sakit mendengar perkataan ayah barusan. Ayah benar. Dulu aku memang pernah berkata seperti itu. Sekarang, aku benar-benar sedih mengingat kata-kataku dulu itu pada ayah.
Ayah kemudian memegang tanganku erat. Kemudian disuruhnya aku mengambil sesuatu di bawah tempat tidur ayah. Saat kulihat, ada baju disana.
“Untuk siapa ini, Pak?” tanyaku kemudian bingung.
“Itu.. untuk..mu, May. Se.. selamat ulangta... hun ya, May. Maaf se... kali karena Bapak hanya bi.. bisa memberi itu untuk... mu” jawab ayah terbata-bata. Aku kembali menangis mendengar ucapan ayah. Kemudian aku peluk ayah dengan erat. Kuucapkan terima kasih pada Ayah.
“Se.. sebenarnya, uang ya.. ng kamu ambil wak... tu it.. tu, mau Bapak ku.. pulkan un.. untuk membeli kado un.. untukmu, Nak. Bapak ta..u karena saat Bapak li... at lemari, u... uang itu sudah ti.. tidak ada” ucap ayah lagi. Kemudian aku merasa bersalah dengan ayah.
“Maafin aku, Pak. Aku nggak tau kalo uang itu untuk beli kado buat ulangtahunku. Maaf, Pak” ucapku malu. Ayah hanya tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Aku sangat merasa bersalah pada ayah. Kenapa aku.. bisa dengan gampangnya berlaku tidak sopan pada ayah dulu? Kelakuanku.. sama saja dengan setan! Aku pun mengumpat diriku sendiri.
Setelah beberapa jam di rumah sakit, kemudian ayah memanggilku lagi. Aku segera berdiri dari kursi tunggu dan mendekati ayah. Kemudian ayah berkata.
“Jaga dirimu baik-baik, May. Maaf karena Bapak tidak bisa menemanimu selamanya. Untuk kedepannya, Bapak akan menemani ibumu disana, May. Di tempat yang jauh itu. Bapak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semua kata-kata kasar darimu, May. Karena Bapak tau, kamu bersikap begitu karena Bapak juga yang hidup miskin begini. Sekarang, kamu bisa tenang tanpa Bapak, May. Bapak sangat menyayangimu. Semoga nantinya kamu bisa tumbuh sebagai wanita yang soleha, May”. Setelah berucap kemudian ayah tersenyum padaku. Sebelum akhirnya... dia memejamkan matanya dengan kedamaian.
“Bapakk!!!! Bapak!!! Jangan tinggalin May, Pak!!! Bangun, Pak!!!! May takut sendirian, Pak!!! May minta maaf dengan semua kata-kata May, Pak!!!!! Bapak bangun!!!!! Bapakkkk!!!!!!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayah. Tapi ayah sudah tidak mendengar teriakanku lagi. Dia tetap tertidur. Dia diam tidak bergeming. Aku menangis. Kemudian teringat kembali saat aku mengatakan kata-kata kasar kepada ayah. Ayah yang selama ini ternyata selalu menyayangiku. Ini ulangtahun terakhirku bagi ayah. Dan dihari ulangtahun ini, terakhir kalinya aku melihat ayah. Kado terakhir ini... akan aku kenang sampai aku mati. Bapak, maafkan aku, ucapku dalam hati. Tak kuasa aku menahan tangis ini. Ayah sudah tidur untuk selama-lamanya.
Pertama mendengar suara tangisanmu, sujud sukurku pada-Nya..
Pertama kali menggendongmu, hati ini begitu terasa senang..
Pertama kali melihatmu tumbuh, aku berdoa pada-Nya..
Berdoa semoga kau jadi anak yang berguna, Nak..
Semua akan ku korbankan demi dirimu..
Walau nyawaku sekalipun, akan kukorbankan untukmu..
Untuk membuatmu senang..
Melihat senyummu, sangat membuat hidupku berarti..
Melihat air matamu, membuat duniaku ikut bersedih..
Nak, isilah hari-harimu dengan senyum dan tawa..
Aku menyayangimu, anakku...
Selamanya akan tetap menyayangi dirimu..


































